Katekese : “Panggilan Menjadi Seorang Ibu”

Pertemuan I

MENJADI SEORANG IBU

 

Waktu                                    : 90 menit

Sasaran                      : Ibu-ibu di stasi Loceret

Metode                       : SCP

Media                         : lagu, Kitab Suci

Sumber bahan           : lih. Daftar pustaka.

Pemikiran dasar        :

            Wanita memiliki tugas yang vital dalam kehidupan manusia. Wanita berperan penting dalam kerjasama manusia dan Tuhan untuk melaksanakan tugas prokreasi. Wanita diberi tugas yang mulia oleh Allah, yakni mengandung dan melahirkan anak.

            Tugasnya tidak berhenti sampai di situ saja, melainkan juga merawat dan membesarkan anak itu dengan penuh cinta. Wanita memiliki perasaan yang peka/sensitif. Bahkan, seorang ibu memiliki ikatan batin yang sangat kuat dengan anak yang telah dikandung dan dilahirkannya.

            Peristiwa mengandung dan melahirkan anak ini sangat berharga bagi seorang wanita. Menerima peran baru sebagai seorang ibu banyak diidam-idamkan oleh kaum wanita. Namun, dewasa ini tidak jarang wanita yang justru menolak perannya sebagai seorang ibu. Berbagai alasan melatarbelakangi penolakan ini, misalnya karena kehamilan diluar nikah, wanita karir, anak yang dilahirkan memiliki kelainan/cacat, dsb.

           

Tujuan           :

  • Peserta memahami bahwa dirinya, sebagai perempuan, dipanggil untuk menjadi seorang ibu.
  • Peserta mau menerima panggilannya itu dengan baik.
  • Peserta semakin memahami bahwa mereka memiliki tugas yang mulia sebagai seorang ibu.
  • Peserta mendapat pengetahuan dan pengalaman baru untuk menjadi ibu yang lebih baik.

 

 

Langkah-langkah      :

Langkah 0: PEMUSATAN AKTIVITAS

            Fasilitator memutar satu lagu yang bertema “Ibu”. Kemudian fasilitator memberikan beberapa pertanyaan yang berhubungan dengan lagu tersebut.

Pertanyaan :

v   Apa pendapat ibu-ibu tentang lagu tersebut?

 

Langkah 1: PENGUNGKAPAN PRAKSIS FAKTUAL

Pengantar (fasilitator mengajak para peserta untuk menggali pengalaman hidup yang di alami).

 ( fasilitator memberikan pertanyaan untuk mempermudah peserta untuk menggali pengalamannya).

Pertanyaan :

  1. Coba ceritakan perasaan anda saat ini sebagai seorang ibu?
  2. Hal apa atau peristiwa apa yang terberat bagi seorang ibu?

fasilitator kemudian meminta peserta mensharingkan pengalamannya dan fasilitator menyesuaikan dengan hasil sharing.

 

Langkah 2: REFLEKSI KRITIS PENGALAMAN FAKTUAL

Fasilitator memberikan pertanyaan panduan untuk mendalami pengalaman dengan tanya jawab

  1. 1.      Pernahkah anda menyesal menjadi seorang ibu?

®    Jika pernah:

  1. Coba ceritakan, apa yang membuat anda menyesal?
  2. Apa yang anda lakukan ketika penyesalan itu ada dalam diri anda?
  3. Berapa lama anda menyesali keadaan anda sebagai seorang ibu?
  4. Bagaimana anda mengolah perasaan itu?

 

®    Jika tidak:

  1. Apa yang anda rasakan ketika menjadi seorang ibu?
  2. Bagaimana sikap anda dalam menghadapi tantangan sebagai seorang ibu?
  3. Bagaimana anda menjalani hidup anda sebagai seorang ibu?

 

  1. 2.      Pernahkah anda menolak untuk menjadi seorang ibu?

®    Jika pernah:

  1. Mengapa anda menolak panggilan untuk menjadi seorang ibu?
  2. Sikap atau tindakan apa yang anda ambil untuk menolak panggilan anda menjadi seorang ibu?

 

®    Jika tidak:

  1. Apakah anda sangat menantikan moment menjadi seorang ibu?
  2. Apa yang anda lakukan dalam penantian itu?
  3. Berapa lama anda menantikan moment itu?
  4. Setelah menjadi seorang ibu, apa yang anda rasakan?
  5. Apa yang anda lakukan setelah menjadi seorang ibu?

 

Peneguhan :

Ibu-ibu, dari sharing dan refleksi tadi kita bersama-sama melihat bahwa menjalani panggilan sebagai seorang ibu itu tidaklah mudah. Ada banyak tantangan dan pergulatan yang harus dialami.

 

Langkah 3 : MENGUSAHAKAN SUPAYA TRADISI DAN VISI KRISTIANI LEBIH TERJANGKAU.

Pengantar :

Ibu-ibu yang terkasih, setelah kita mengalami refleksi kritis terhadap pengalaman yang faktual, kita selanjutnya akan melihat bagaimana beberapa tokoh wanita dalam Kitab Suci menghadapi panggilannya sebagai seorang ibu.

Teks Kitab Suci:

  1. Luk. 1: 5-25 (Pemberitahuan tentang kelahiran Yohanes Pembaptis)

Pada zaman Herodes, raja Yudea, adalah seorang imam yang bernama Zakharia dari rombongan Abia. Isterinya juga berasal dari keturunan Harun, namanya Elisabet.

Keduanya adalah benar di hadapan Allah dan hidup menurut segala perintah dan ketetapan Tuhan dengan tidak bercacat.

Tetapi mereka tidak mempunyai anak, sebab Elisabet mandul dan keduanya telah lanjut umurnya.

Pada suatu kali, waktu tiba giliran rombongannya, Zakharia melakukan tugas keimaman di hadapan Tuhan.

Sebab ketika diundi, sebagaimana lazimnya, untuk menentukan imam yang bertugas, dialah yang ditunjuk untuk masuk ke dalam Bait Suci dan membakar ukupan di situ.

Sementara itu seluruh umat berkumpul di luar dan sembahyang. Waktu itu adalah waktu pembakaran ukupan.

Maka tampaklah kepada Zakharia seorang malaikat Tuhan berdiri di sebelah kanan mezbah pembakaran ukupan.

Melihat hal itu ia terkejut dan menjadi takut.

Tetapi malaikat itu berkata kepadanya: “Jangan takut, hai Zakharia, sebab doamu telah dikabulkan dan Elisabet, isterimu, akan melahirkan seorang anak laki-laki bagimu dan haruslah engkau menamai dia Yohanes.

Engkau akan bersukacita dan bergembira, bahkan banyak orang akan bersukacita atas kelahirannya itu.

Sebab ia akan besar di hadapan Tuhan dan ia tidak akan minum anggur atau minuman keras dan ia akan penuh dengan Roh Kudus mulai dari rahim ibunya;

ia akan membuat banyak orang Israel berbalik kepada Tuhan, Allah mereka,

dan ia akan berjalan mendahului Tuhan dalam roh dan kuasa Elia untuk membuat hati bapa-bapa berbalik kepada anak-anaknya dan hati orang-orang durhaka kepada pikiran orang-orang benar dan dengan demikian menyiapkan bagi Tuhan suatu umat yang layak bagi-Nya.”

Lalu kata Zakharia kepada malaikat itu: “Bagaimanakah aku tahu, bahwa hal ini akan terjadi? Sebab aku sudah tua dan isteriku sudah lanjut umurnya.”

Jawab malaikat itu kepadanya: “Akulah Gabriel yang melayani Allah dan aku telah diutus untuk berbicara dengan engkau dan untuk menyampaikan kabar baik ini kepadamu.

Sesungguhnya engkau akan menjadi bisu dan tidak dapat berkata-kata sampai kepada hari, di mana semuanya ini terjadi, karena engkau tidak percaya akan perkataanku yang akan nyata kebenarannya pada waktunya.”

Sementara itu orang banyak menanti-nantikan Zakharia. Mereka menjadi heran, bahwa ia begitu lama berada dalam Bait Suci.

Ketika ia keluar, ia tidak dapat berkata-kata kepada mereka dan mengertilah mereka, bahwa ia telah melihat suatu penglihatan di dalam Bait Suci. Lalu ia memberi isyarat kepada mereka, sebab ia tetap bisu.

Ketika selesai jangka waktu tugas jabatannya, ia pulang ke rumah.

Beberapa lama kemudian Elisabet, isterinya, mengandung dan selama lima bulan ia tidak menampakkan diri, katanya:

 “Inilah suatu perbuatan Tuhan bagiku, dan sekarang Ia berkenan menghapuskan aibku di depan orang.”

 

  1. Luk. 1: 26-38 (Pemberitahuan tentang kelahiran Yesus)

Dalam bulan yang keenam Allah menyuruh malaikat Gabriel pergi ke sebuah kota di Galilea bernama Nazaret,

kepada seorang perawan yang bertunangan dengan seorang bernama Yusuf dari keluarga Daud; nama perawan itu Maria.

Ketika malaikat itu masuk ke rumah Maria, ia berkata: “Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau.”

Maria terkejut mendengar perkataan itu, lalu bertanya di dalam hatinya, apakah arti salam itu.

Kata malaikat itu kepadanya: “Jangan takut, hai Maria, sebab engkau beroleh kasih karunia di hadapan Allah.

Sesungguhnya engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan hendaklah engkau menamai Dia Yesus.

Ia akan menjadi besar dan akan disebut Anak Allah Yang Mahatinggi. Dan Tuhan Allah akan mengaruniakan kepada-Nya takhta Daud, bapa leluhur-Nya,

dan Ia akan menjadi raja atas kaum keturunan Yakub sampai selama-lamanya dan Kerajaan-Nya tidak akan berkesudahan.”

Kata Maria kepada malaikat itu: “Bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku belum bersuami?”

Jawab malaikat itu kepadanya: “Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah.

Dan sesungguhnya, Elisabet, sanakmu itu, ia pun sedang mengandung seorang anak laki-laki pada hari tuanya dan inilah bulan yang keenam bagi dia, yang disebut mandul itu.

Sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil.”

Kata Maria: “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu.” Lalu malaikat itu meninggalkan dia.

 

Peneguhan

            Bagi anda yang pernah menyesal menjadi seorang ibu, coba bayangkan bagaimana penantian Elisabet untuk mendapatkan seorang anak. Hingga akhirnya anak itu datang justru pada hari tuanya. Di mana seorang wanita sangat beresiko untuk melahirkan.

            Sedangkan bagi anda yang pernah menolak panggilan anda sebagai ibu, kita tadi juga telah belajar bagaimana Maria HARUS mau menjadi seorang ibu tanpa suami. Ia harus mengandung sebelum menikah dengan tunangannya. Bahkan, santo Yosef sendiri pernah berniat untuk diam-diam meninggalkannya. Namun Maria tetap bertahan, ia percaya bahwa Tuhan memiliki rencana lain baginya dan calon anaknya.

 

Langkah ke-4 : INTERPRESTASI DIALEKTIS ANTARA PRAKSIS DAN VISI PESERTA DENGAN TRADISI DAN VISI KRISTIANI

Pertanyaan:

  1. Setelah anda sekalian mendengarkan kisah Kitab Suci tadi, apa pendapat anda perihal panggilan anda menjadi seorang ibu?
  2. Pelajaran atau hal apa yang dapat anda ambil dari kisah tadi yang sesuai dengan keadaan anda sebagai seorang ibu?
  3. Sikap apa yang perlu anda bangun saat ini untuk mensyukuri panggilan sebagai seorang ibu?

 

Langkah 5 : KETERLIBATAN BARU DEMI MAKIN TERWUJUDNYA KERAJAAN ALLAH DI DUNIA

 

Setelah melalui proses dari langkah 0,1,2,3 dan 4. Peserta mampu merumuskan niat-niat untuk melakukan aksi yang lebih kongkrit.

–          Apa yang akan anda lakukan agar panggilan sebagai seorang ibu dapat anda jalani dengan baik dan penuh syukur?

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Pertemuan II

SPIRITUALITAS SEORANG IBU

 

Waktu                                    : 90 menit

Sasaran                      : Ibu-ibu di stasi Loceret

Metode                       : SCP

Media                         : lagu, Kitab Suci

Sumber bahan           : lih. Daftar pustaka.

Pemikiran dasar        :

            Wanita memiliki tugas yang vital dalam kehidupan manusia. Wanita berperan penting dalam kerjasama manusia dan Tuhan untuk melaksanakan tugas prokreasi. Wanita diberi tugas yang mulia oleh Allah, yakni mengandung dan melahirkan anak.

            Tugasnya tidak berhenti sampai di situ saja, melainkan juga merawat dan membesarkan anak itu dengan penuh cinta. Wanita memiliki perasaan yang peka/sensitif. Bahkan, seorang ibu memiliki ikatan batin yang sangat kuat dengan anak yang telah dikandung dan dilahirkannya.

            Dimensi spiritual wanita sebagai seorang sangat penting dalam langkahnya menanggapi panggilan sebagai ibu. Spiritualitas seorang ibu juga penting bagi perkembangan dan pertumbuhan buah hatinya kelak.

           

Tujuan           :

  • Peserta memahami bahwa dirinya, sebagai perempuan, dipanggil untuk menjadi seorang ibu.
  • Peserta mau menerima panggilannya itu dengan baik.
  • Peserta semakin memahami bahwa mereka memiliki tugas yang mulia sebagai seorang ibu.
  • Peserta mendapat pengetahuan dan pengalaman baru untuk menjadi ibu yang lebih baik.
  • Memiliki jiwa yang tangguh dalam menaggapi panggilannya sebagai seorang ibu.

 

Langkah-langkah      :

Langkah 0: PEMUSATAN AKTIVITAS

            Fasilitator memutar satu lagu yang bertema “Ibu”. Kemudian fasilitator memberikan beberapa pertanyaan yang berhubungan dengan lagu tersebut.

Pertanyaan :

v   Apa pendapat ibu-ibu tentang lagu tersebut?

v   Bagaimana ibu-ibu, apakah niat-niat yang telah dibuat pada minggu lalu sudah dilaksanakan?

 

Langkah 1: PENGUNGKAPAN PRAKSIS FAKTUAL

Pengantar (fasilitator mengajak para peserta untuk menggali pengalaman hidup yang di alami).

 ( fasilitator memberikan pertanyaan untuk mempermudah peserta untuk menggali pengalamannya).

Pertanyaan :

  1. Coba ceritakan pengalaman anda ketika melaksanakan niat-niat yang anda buat pada pertemuan minggu lalu!
  2. Perasaan apa yang muncul?
  3. Hal-hal apa saja yang mendukung atau menghambat anda dalam melaksanakan niat-niat anda itu?

fasilitator kemudian meminta peserta mensharingkan pengalamannya dan fasilitator menyesuaikan dengan hasil sharing.

 

Langkah 2: REFLEKSI KRITIS PENGALAMAN FAKTUAL

Fasilitator memberikan pertanyaan panduan untuk mendalami pengalaman dengan tanya jawab

  1. 1.      Dengan adanya hambatan-hambatan itu, maukah anda terus berusaha menjalankan niat-niat anda itu, agar dapat menjalani panggilan anda dengan lebih baik dan penuh syukur?

®    Jika mau:

a)      Coba ceritakan, apa yang membuat anda mau terus berusaha?

b)      Apa yang anda lakukan ketika hambatan itu datang?

 

®    Jika tidak:

a)      Apa yang anda rasakan ketika mengalami hambatan-hambatan itu?

b)      Mengapa anda akhirnya memutuskan untuk berhenti berusaha?

 

 

Peneguhan :

Ibu-ibu, dari sharing dan refleksi tadi kita bersama-sama melihat bahwa menjalani panggilan sebagai seorang ibu itu tidaklah mudah. Ada banyak tantangan dan pergulatan yang harus dialami.

 

Langkah 3 : MENGUSAHAKAN SUPAYA TRADISI DAN VISI KRISTIANI LEBIH TERJANGKAU.

Pengantar :

Ibu-ibu yang terkasih, setelah kita mengalami refleksi kritis terhadap pengalaman yang faktual, kita selanjutnya akan melihat bagaimana beberapa tokoh wanita dalam Kitab Suci menghadapi panggilannya sebagai seorang ibu.

Teladan dari Santa Monika:

RIWAYAT HIDUP

Monika dilahirkan di kota Thagaste, Afrika Utara. Keluarga Monika termasuk golongan yang terkemuka, sebuah keluarga Kristen yang saleh dan taat beribadah. Monika diasuh oleh seorang pelayan perempuan yang lebih berpengaruh daripada ibunya sendiri. Dia dididik secara ketat dan keras, khususnya dalam hal makan dan minum.

Pada usia yang masih tergolong muda, Monika menikah dengan seorang bernama Patrisius. Patrisius adalah seorang yang kasar, mudah marah, tidak setia, peminum, dan mempunyai ekonomi yang tidak memadai. Ia juga seorang kafir yang tidak percaya kepada Tuhan. Menghadapi sifat suaminya yang jauh dari sempurna itu, Monika yang saleh berdoa dan memohon Tuhan memberikan rahmat pertobatan kepada Patrisius.

Kehidupan Monika dan suaminya jauh dari kebahagiaan. Terdapat perbedaan yang begitu jauh, Monika adalah seorang yang lemah lembut, sedangkan suaminya seorang yang kasar. Monika dengan penuh kesetiaan dan ketabahan menanggung semua beban itu. Monika membicarakan persoalan dengan suaminya ketika suaminya dalam keadaan tenang. Walaupun suaminya kasar tetapi Monika tidak pernah dipukul, maka contoh hidupnya menggerakkan hati banyak ibu di kota itu. Monika selalu mengatakan bahwa seorang suami yang sedang marah sebaiknya jangan dilawan, baik dengan kata-kata maupun perbuatan. Bila sudah tenang dan tidak marah lagi maka itulah waktu yang tepat untuk didekati dan diajak berbicara dengan baik-baik. Suami Monika adalah seorang yang mudah marah, tetapi Monika tidak pernah disiksa dan dipukul. Tak jarang dijumpai banyak ibu yang memiliki suami yang lembut dan ramah, namun kadang-kadang di wajahnya ada bekas pukulan. Monika menasihati para ibu agar mengingat selalu buku tentang perkawinan yang dulu pernah dibacakan, yaitu taat pada suami dan tidak bersikap angkuh. Banyak ibu yang menjalankan nasihat itu dan mereka berhasil. Monika juga seorang ibu yang menjadi penegak yang bijak dan pendamai dalam setiap perselisihan dengan orang lain. Berkat doa Monika yang tak kunjung putus itu, akhirnya Patrisius dibaptis sesaat sebelum ia meninggal pada tahun 370.

Perkawinan Monika dan Patrisius ini membuahkan tiga orang anak, yaitu Agustinus, Navigius, dan Perpetua. Agustinus lahir pada hari Minggu tanggal 13 November 354. Ia seorang anak yang nakal, suka berbohong, dan selalu mencari alasan untuk menghindar dari tugas belajarnya. Ia juga malas, suka mencuri, dan suka memukul. Akan tetapi, Agustinus adalah seorang anak yang pandai dan selalu berdoa. Monika banyak mendapat kesulitan dalam mendidik Agustinus, karena ia tidak mau diperintah. Namun, Monika mendidik anaknya dengan rasa keibuan dan kasih sayang. Monika adalah ibu yang senantiasa mengikuti perjalanan hidup anaknya dan tidak pernah meninggalkannya, walaupun sang anak pernah mengecewakannya. Contohnya, Agustinus yang menjauh dari Gereja. Di kemudian hari Agustinus sendiri mengatakan, “Karena kebaikan ibuku, aku bisa mendapatkan segala yang terbaik yang telah kuperoleh.” Monika dengan antusias mengajarkan dan menceritakan pada anak-anaknya tentang Allah, tentang Kristus.

Pada usia enam belas tahun Agustinus menghabiskan masa remajanya dengan berkeliaran bersama teman-temannya yang sedang dilanda perasaan jenuh dan bosan. Mereka sering melakukan kejahatan. Agustinus sendiri senang melakukan percabulan. Tidak ada yang mengingatkan Agustinus akan dosa. Bahkan, ayahnya sendiri bangga akan hal itu. Sebaliknya, Monika terus berdoa dan menasihatinya. Agustinus pernah menjalani kehidupan “kumpul kebo” bersama seorang wanita. Akibatnya, lahirlah seorang putra hasil hubungan mereka di tahun 372. Anak tersebut diberi nama Adeodatus. 

Suatu ketika Agustinus membaca sebuah buku yang berjudul “Hortensius” dengan tujuan agar dia bisa pandai berbicara. Ternyata dia tersentuh bahwa bukan hawa nafsu yang dicari, tetapi kehidupan rohanilah yang memberikan ketenangan. Akan tetapi, Agustinus tidak puas dengan ajaran Kitab Suci, maka dia berkenalan dengan sebuah aliran, yaitu Manikheisme. Ulah Agustinus ini membuat Monika semakin sedih dan menangis tak hentinya sambil berdoa. Airmata Monika lebih deras daripada airmata seorang ibu yang melihat anaknya meninggal dunia.

Akhirnya Monika menghadap seorang uskup dan meminta supaya uskup itu berbicara kepada Agustinus untuk melepaskan dirinya dari aliran Manikheisme itu. Selama sembilan tahun Agustinus mengikuti aliran itu. Disertai deraian air mata, Monika terus-menerus berdoa dengan tekun dan setia untuk pertobatan anaknya. Selama mengikuti aliran itu Agustinus tidak mendapatkan kepuasan. Kemudian, dia berencana untuk ke Roma. Ibunya tidak mengijinkannya, namun Agustinus tetap pada keputusannya dan pergi ke Roma.

Sampailah Agustinus di Roma. Dia tidak betah dan tinggal selama setahun dengan penuh kekecewaan dan penderitaan. Dia merasa seperti orang asing. Suatu saat dia sakit parah dan hampir meninggal. Pada saat itu ada perubahan dalam hatinya. Perlahan-lahan dia mulai berpaling dari aliran itu. Dia menyadari bahwa ini berkat doa-doa ibunya yang setiap hari ke gereja dan dengan ratap tangis berdoa untuk keselamatannya. Akhirnya, Agustinus sembuh dari sakitnya dan dia mulai teringat akan ibunya.

Pada tahun 384 Agustinus pergi ke Milano. Jarak antara Roma dan Milano kira-kira 650 km. Di sana dia bertemu dengan Uskup Ambrosius, seorang ahli pidato yang terkenal. Agustinus disambut dengan baik dan penuh kebapakan. Dia menjadi rajin dan setia ke gereja untuk mendengarkan khotbah dari Uskup Ambrosius.

Tak lama kemudian Monika menyusuri jejak Agustinus hingga ke Milano. Ketika Agustinus bertemu dengan ibunya, dia menceritakan bahwa dia telah lepas dari aliran Manikheisme. Saat itu Agustinus berumur tiga puluh tahun. Monika berkata bahwa ia percaya demi Kristus bahwa sebelum ia mati ia melihat puteranya bertobat dan menjadi seorang Katolik. Itulah keyakinan dari Monika.

Pergulatan terjadi pada Agustinus setelah dia bertemu dengan Uskup Ambrosius. Uskup Ambrosius mengatakan bahwa jalan keselamatan manusia terdapat dalam Tuhan Yesus Kristus dan dalam Kitab suci. Kata-kata inilah yang mengusik hatinya dan melegakannya. Akhirnya, Agustinus sadar, walau dalam kegelisahan bahwa dia merindukan keselamatan itu. Agustinus membaca di dalam Gal. 5:17 (juga dalam Rm. 7:19) bahwa “Keinginan daging berlawanan dengan keinginan Roh dan keinginan Roh berlawanan dengan keinginan daging karena keduanya bertentangan.” Dia juga tercengang dan kagum dengan kisah tentang Antonius Pertapa.

Akhirnya, seiring dengan berjalannya waktu Monika menyertai pembaptisan Agustinus dan Adeodatus. Agustinus dibaptis oleh Uskup Ambrosius. Waktu itu hari Minggu Paskah tanggal 25 April tahun 387. Monika meneteskan airmata kebahagiaan karena menyaksikan kelahiran baru anaknya. Setelah itu mereka kembali ke Afrika.

Pada suatu ketika, Agustinus dan Monika bersandar pada sebuah jendela di kediaman mereka di Ostia. Mereka tenggelam dalam pembicaraan tentang hal-hal rohani. Begitu asyiknya hingga keduanya mengalami ekstase. Rupanya Monika tahu bahwa ajalnya kian mendekat, dan dia telah menyelesaikan pekerjaan yang Allah berikan kepadanya, yaitu memertobatkan Agustinus. Pada usia 56 tahun Monika meninggal dunia karena serangan demam yang hebat. Hati Agustinus sedih luar biasa. Dalam kesendiriannya Agustinus mengenang kembali kebaikan dan kesetiaan ibunya yang sangat suci. Ia menangis sepuas-puasnya.

Sungguh teladan hidup St. Monika menyatakan bahwa doa dan tangisan yang tak kunjung putus akan didengarkan oleh Tuhan. Ia menjadi teladan istimewa para ibu dalam membesarkan anak-anaknya, juga bagi para janda yang menjalani masa-masa ditinggal pergi sang suami. Pada setiap tanggal 27 Agustus, Gereja menghormati Santa Monika secara istimewa.

TELADAN HIDUP SANTA MONIKA
Hidup doa yang mendalam

Santa Monika telah menunjukkan betapa Tuhan adalah Yang Terutama dalam hidup ini. Ia tak pernah meninggalkan doa-doanya sekalipun ia berada dalam situasi kehidupan yang sangat suram. Monika selalu menjalankan doa-doanya dengan tekun dan setia. Tiada hari terlewati tanpa doa. Apa pun yang dilakukan setiap hari selalu diwarnai dengan doa dan doa. Monika bukan seorang biarawati, ia adalah seorang istri dan ibu yang sangat sederhana, namun kehidupan doanya sangatlah mendalam. Bagi Monika doa adalah sesuatu yang amat penting dalam hidup, karena dalam dan melalui doa-doa itu dia dapat berjumpa dengan Tuhan yang dikasihinya. Doa-doa Monika juga telah terbukti membawa pertobatan bagi orang-orang yang dicintainya, khususnya suami dan anaknya.

Sikap percaya penuh pengharapan akan Tuhan

Sebagai seorang manusia biasa, banyak orang akan mudah putus asa dan tak lagi mempunyai harapan jika mengalami penderitaan dalam hidup. Sebagai seorang istri yang mempunyai suami berperilaku tidak baik, Monika tidak mengeluh kepada Tuhan. Ia tidak menyalahkan Tuhan dan tidak marah atas keadaan buruk yang dideritanya. Agustinus yang juga murtad, tidak membuat Monika putus harapan dan menyerah. Monika telah menunjukkan sikap yang sangat positif. Ia tetap dapat percaya sepenuhnya kepada Tuhan dan penuh pengharapan akan pertolongan-Nya. Ia tidak bersikap menjauh dari Tuhan. Sebaliknya, dengan segala pengharapan yang ada dalam dirinya, Monika menyerahkan semua itu kepada Tuhan. Ia semakin mendekat kepada Tuhan dalam doa-doanya yang didasari sikap percaya penuh pengharapan itu.

Seorang istri dan ibu yang lembut dan penuh kesabaran

Jika seorang istri mendapat perlakuan buruk dari suami, maka yang sering terjadi adalah keributan dalam rumah tangga. Namun, Monika tidak membalas perlakuan buruk suaminya dengan kemarahan dan kebencian. Monika tetap lembut dan sabar menghadapi segala sikap buruk suaminya. Saat Patrisius marah, Monika akan tinggal diam dan berdoa dalam hatinya. Ia tak terpancing untuk membalas dengan marah. Monika mengingat dengan baik perintah Tuhan bahwa seorang istri harus taat dan hormat kepada suami maka ia pun melaksanakannya dengan baik. Kelembutan dan kesabaran Monika ini pula yang akhirnya membawa pertobatan dalam diri suaminya. Dan, sebagai seorang ibu, Monika juga selalu menunjukkan sikap lembut dan sabar dalam mendidik anak-anaknya. Walaupun Monika banyak dikecewakan oleh anaknya, namun ia tetap bersikap lembut hati, dengan sabar berusaha membawa anaknya ke jalan yang benar. Kelembutan hati Monika inilah yang juga tak dapat dilupakan oleh Agustinus seumur hidupnya. Betapa Monika telah menjadi teladan yang sangat baik sebagai seorang istri dan ibu.

Kasih yang besar kepada Tuhan dan sesama

Tumbuh dalam keluarga saleh dan taat beribadah membuat Monika dipenuhi dengan kasih yang besar kepada Tuhan dan sesama. Kasih yang besar kepada Tuhan ini membuat Monika selalu dapat bersabar dan tabah menghadapi segala macam penderitaan dalam hidupnya. Kasih yang besar kepada Tuhan ini juga membuat Monika dapat mengasihi sesama dengan tulus apa adanya. Ini telah ditunjukkan Monika dengan sikap mengasihi suaminya apa adanya, menerima segala kekurangan yang ada dengan tetap memberikan kasih yang tulus. Kasih yang dimilikinya juga diberikan kepada semua orang yang ada di sekitarnya. Para ibu yang datang memohon nasihatnya juga diterima dengan penuh kasih. Monika berusaha agar semua orang dapat mengalami kasih Tuhan dan memberikan kasih itu kepada sesamanya.

Sikap keperkasaan dalam kelembutan

Monika adalah seorang yang lembut dan penuh kesabaran, namun di balik kelembutannya itu sebenarnya terpancar suatu kekuatan dan keperkasaan yang memampukan Monika tetap tabah dalam menghadapi penderitaan. Keperkasaan ini membuat Monika tidak mudah terpuruk, walaupun dalam doa-doanya tak jarang air mata terus mengalir, namun kekuatan dan keperkasaan seorang perempuan lemah ini telah membuat segalanya dapat dijalaninya dengan tabah. Air mata Monika tidak menggambarkan kelemahan dan sikap cengeng, namun menggambarkan suatu ketegaran dan keperkasaan yang dimilikinya. Ini membuat Monika sanggup melewati puluhan tahun sampai akhirnya ia memetik buahnya saat Agustinus bertobat dan memberikan diri kepada Tuhan.

 

Langkah ke-4 : INTERPRESTASI DIALEKTIS ANTARA PRAKSIS DAN VISI PESERTA DENGAN TRADISI DAN VISI KRISTIANI

Pertanyaan:

  1. Setelah anda sekalian mendengarkan kisah dan teladan hidup dari Santa Monika tadi, apa yang muncul dalam benak anda?
  2. Pelajaran atau hal apa yang dapat anda ambil dari kisah tadi yang sesuai dengan keadaan anda sebagai seorang ibu?
  3. Sikap apa yang perlu anda bangun saat ini untuk membangun spiritualitas sebagai seorang ibu?

 

Langkah 5 : KETERLIBATAN BARU DEMI MAKIN TERWUJUDNYA KERAJAAN ALLAH DI DUNIA

 

Setelah melalui proses dari langkah 0,1,2,3 dan 4. Peserta mampu merumuskan niat-niat untuk melakukan aksi yang lebih kongkrit.

–          Apa yang akan anda lakukan agar memili spiritualitas yang tangguh sebagai seorang ibu?

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Daftar Pustaka

 

Alkitab Deuterokanonika. 2007. Jakarta: Lembaga Alkitab Indonesia.

Thomas H. Groome. 1997. Shared Christian Praxis: Suatu Model Berkatekese. Yogyakarta: Lembaga Pengembangan Kateketik Puskat.

http://www.holytrinitycarmel.com/f/r.php?d=553

http://kumpulandoakatolik.wordpress.com/doa-dengan-perantaraan-santo-santa/doa-santa-monica/

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s