luka karena kata “sahabat”

Selalu ada kekuatiran dan kecemasan dalam hati saya. Kekuatiran dan kecemasan yang mungkin tidak masuk akal dan konyol bagi orang lain. Selalu ada rasa takut dalam hati saya bila seseorang menyebutkan kata “sahabat”. Sebab, mungkin tafsiran saya mengenai arti kata ini telalu tinggi. Dan harapan saya tentang seorang sahabat juga terlalu mendalam sehingga membuat saya sering kali merasa kata ini begitu sakral untuk diucapkan.
Kejadian terakhir mengenai kata “sahabat” ini terjadi baru-baru ini. Saya mendapat seorang teman yang baik. Beberapa waktu kami sering kali bersama-sama. Bahkan saya mulai menyayangi dia seperti saudara saya sendiri, sama seperti yang saya rasakan pada sahabat-sahabat saya yang lain. Dia pun akhirnya berkata pada saya, “Pit,” panggilnya. “Aku sepertinya ndak bisa kalau harus pisah sama kamu. Aku pasti nangis. Soalnya kalau aku dah merasa sayang sama orang, pasti aku ndak mau pisah”, lanjutnya. Dan beberapa kali dia sempat menyebut bahwa kami adalah sahabat.
Namun, setiap dia menyebutkan kata itu, ada suatu kecemasan yang bergejolak dalam diri saya. Saya jadi takut bila persahabatan yang dia katakan tidak sama dengan apa yang selama ini saya agungkan dan saya pegang. Persahabatan bagi saya seringkali seperti bulan yang menerangi kegelapan malam hari. Tak tampak pada siang yang terang, namun tak pernah pergi. Melainkan mengamati di tempat yang tersembunyi dan selalu ada, layaknya ia menemani bintang-bintang.
Saya mencoba menepis keraguan dan kecemasan itu berkali-kali. Saya terus berusaha menjadi sahabat yang baik bagi dia. Berusaha menjadi sahabat yang dia inginkan. Namun, seiring berjalannya waktu, keraguan dalam hati saya timbul lagi. ‘Jangan-jangan, sahabat bagi dia tidak lebih dari teman baik??!’, pikir saya. Dugaan ini semakin hari semakin kuat. Sebab dia pun tak jarang tak ada pada saat saya membutuhkan kehadirannya. Seringkali dia sibuk dengan dunianya sendiri dan saya mencoba mengerti.
Beberapa hari yang lalu dia pergi bersama teman-teman yang lainnya untuk liburan. Kepergiannya yang tanpa pamit itu seakan memberi tahu saya bahwa ada sesuatu yang tidak beres dengannya. Mungkin, akan ada suatu perubahan dalam hubungan pertemanan kami. Dan ternyata benar. Saya maklum, bila saat itu dia pulang dengan wajah muram. Saya pikir sederhana saja, mungkin dia sedang lelah. Tapi satu minggu berlalu tanpa dia menegur saya. Wajah yang masam bila memandang saya. Suara yang meninggi bila saya menyapa atau bertanya padanya. Ada penyesalan dan rasa sakit dalam hati saya. Saya pikir, tidak seharusnya saya merasa cemas selama ini, toh selama ini hal semacam ini sering terjadi pada saya. Dan mungkin tidak seharusnya saya berharap terlalu banyak pada persahabatan kami ini.
Saya terus sibuk dengan pikiran tentang sikapnya yang berubah begitu cepat. Bahkan kuliah selama hari-hari itu seperti angin yang berlalu menerpa wajah saya dan tak terasa apapun. Sedangkan dia telah bisa tertawa dengan teman yang lain, tapi tidak dengan saya. Di situ hati saya terasa seperti disayat-sayat. Sakit dan perih setiap kali melihat dia. Kenapa selalu saya yang jadi sasaran bila dia sedang ada masalah?? Kenapa dengan orang lain bisa tertawa, namun melihat saya pun enggan?? Sebenarnya apa salah saya padanya sehingga dia bersikap seperti ini pada saya?? Sampai-sampai saya menangis memikirkan semua ini. Pertanyaan-pertanyaan ini muncul kembali ketika saya mendengar dari orang lain bahwa teman saya itu sedang ingin sendiri. Ini sangat tidak masuk akal bagi saya.
Seseorang memberi penghiburan pada saya dan memberi nasehat juga. Dia menguatkan saya, dan berhasil mengembalikan kepercayaan diri serta semangat saya. Dia membuat saya mengerti bahwa teman saya itu berbeda dengan saya, dengan latar belakang yang berbeda dan cara pergaulan yang berbeda pula. Di sini mata saya mulai terbuka. Saya mulai sadar bahwa saya tidak mungkin membawa orang lain menjadi seperti yang saya inginkan. Dan akhirnya saya percaya pada nasehat seorang teman bahwa, dalam suatu hubungan, satu diantaranya akan memberi lebih, dan yang lain akan dirasa kurang.
Saya sadar dan saya tahu bahwa kejadian ini bisa saja terulang lagi, lagi, dan lagi. Dan setiap kali ini terjadi saya tidak akan sanggup untuk menahan sakitnya. Tapi saya akan bertahan, saya akan mencoba untuk menjadi lebih baik lagi. Dan saya akan menunjukkan pada teman saya itu bahwa saya layak dan saya bisa jadi “sahabat” yang baik bagi dia.
Saya mampu melakukan analisa batin ini dengan baik karena hal ini seringkali terjadi dalam hidup saya. Dan hubungan dengan teman sangat menyita tenaga dan pikiran saya. Sebab teman adalah hal yang paling berharga dalam hidup saya. Saya bersyukur sebab Teman saya, Sahabat saya yang sejati selalu setia dan senantiasa ada untuk saya, untuk menguatkan dan menopang saya. DIA yang karena cintanya pada saya dan kita semua telah menunjukkan pada saya arti persahabatan yang sejati, yang rela berkorban demi kebaikan dan kebahagiaan orang-orang yang dicintainya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s