penantian untuk cinta

Cinta. Satu kata yang secara semu bermakna ambigu. Dalam satu kata ini, seseorang bisa saja membayangkan kebahagiaan yang tak terhingga, tak ternilai. Namun, bila kata ini terucap dari bibir seseorang, sudah tak bisa dipungkiri lagi pasti orang itu akan mendapat jawaban demikian: “Ah, gombal!! Bohong banget. Dah nggak usah ngerayu-ngerayu”.
Yah……… maklumlah, jaman sekarang ini apa sih yang nggak dimanipulasi orang lain?? Nggak terkecuali juga cinta. Jadi ya nggak heran kalau banyak orang yang nggak percaya lagi dengan yang namanya cinta. Namun berbeda dengan Tania. Cewek SMA yang berwajah manis ini sangat percaya dengan cinta. Dia selalu beranggapan bahwa cinta adalah segalanya. Meski begitu sampai umurnya yang ketujuh belas ini dia belum pernah merasakan cinta dari seorang cowok.
“Huft…….. demen banget sih orang-orang ini pacaran. Nggak tau apa ini tempat umum?” gerutunya tiap kali menemui pasangan cowok cewek yang sedang asik memadu kasih.
Dalam hatinya sebenarnya sangat iri dengan mereka. Namun bila ditanya kenapa nggak cari cowok aja? Pasti dia menjawab dengan kalimat yang sama. “Aku yakin kan datang pasangan jiwaku pada waktu dan cara yang indah”, sambil menyanyikannya persis seperti lagu yang dinyanyikan Oppie.
Setiap hari, setiap malam, Tania selalu berdoa agar dianugerahkan padanya seorang kekasih yang setia, dan menerima dia apa adanya. Dengan sabar, Tania menunggu kehadiran seseorang yang sangat didambakannya itu. Hingga pada suatu malam, dia dipertemukan dengan seorang cowok.
Malam itu, hujan turun deras seakan tak mau berhenti. Tania berlari menuju sebuah gereja untuk berteduh. Belum juga sampai, tubuhnya menabrak seorang cowok. Tubuhnya yang kecil itu pun terdorong kebelakang dan hamper jatuh ke tanah. Beruntung, cowok yang ditabraknya tadi menarik tangannya sehingga keseimbangan Tania kembali sebelum dia sempat jatuh.
“Maaf”, kata cowok itu setelah Tania dapat berdiri dengan baik dan melepaskan pegangannya di lengan Tania.
“Terimakasih”, sahut Tania. Lalu menarik tangan cowok itu ke teras gereja yang tadi ditujunya. Walau masih bingung, cowok itu mengikuti Tania tanpa perlawanan.
“Kenapa ke sini?” Tanya cowok itu setelah mereka sampai.
“Ouwh….. maaf”, kata Tania lalu melepaskan tangan cowok itu. “Memangnya kamu mau kehujanan? Aku sih enggak makanya aku ajak kamu berteduh di sini. Eh, sebentar ya…”, lanjut Tania lalu dia masuk ke dalam gereja itu. Sementara si cowok masih tetap menunggu di luar.
Tania berlutut dan berdoa. Masih dengan permohonan yang sama seperti saat-saat sebelumnya. Setelah itu dia kembali keluar, menemani cowok itu berteduh di emperan gereja.
“Namaku Theo. Maaf tadi telah membuat kamu jatuh”, kata cowok itu memperkenalkan diri. Tania tersenyum kemudian menyambut uluran tangan Theo.
“Aku Tania. Nggak papa kok, tadi aku juga nggak hati-hati.” Jawab Tania.
Malam itu hujan turun deras. Tania dan Theo masih setia menunggu reda. Mereka hanyut dalam percakapan yang panjang dan menyenangkan. Bahkan mereka saling tertawa serta menggoda satu sama lain. Tak lupa mereka pun tak lupa untuk saling bertukar nomor hape.
Satu bulan sudah berlalu. Perkenalan ditengah hujan tempo hari ternyata berlanjut. Mereka semakin dekat bahkan telah berteman, bahkan Tania telah menganggap Theo sebagai kakaknya (maklum, anak tunggal). Hari-hari Tania tak pernah sepi dari dering hape yang menandakan telepon dan pesan singkat dari Theo. Hari-harinya selalu diawali dengan senyum yang merekah menambah manis wajahnya yang ayu.
Tiba-tiba hape Tania bergetar menandakan ada pesan baru untuknya. ‘Aduh, lagi pelajaran nih. Siapa sih? Ganggu aja’, keluh Tania dalam hati. Tanggannya meraba-raba laci meja, berusaha menemukan hapenya. Dapat. Dengan sigap Tania menekan-nekan keypad hapenya. Kemudian membaca pesan yang tertera di layar.

Pesan: TH3o Imut
Tan, aku mau ngomong sesuatu sama kamu
Bisa ketemuan sebentar nggak? Penting!

Kembali dengan tangkas jari-jemari Tania menari-nari di badan hape. Dalam hitungan detik sudah terangkai kata-kata dan siap dikirim. Yak, terkirim!
Satu menit, dua menit. Tania menunggu balasan dari Theo. Sepuluh menit telah berlalu namun masih belum ada jawaban. Tania mulai gelisah. Konsentrasi belajarnya hilang sudah. Sesekali dipandanginya layar hapenya, berharap ada pesan masuk dari Theo. Nihil.
Tteeeeeeeetttt……….. ttteeeeeeeettttt…….ttteeeeeeeeettttttttt………. Bel telah berbunyi. Pelajaran pun berakhir. Bersamaan dengan itu muncul sebuah pesan di hape Tania. Tersungging senyum di bibirnya ketika ia baca nama pengirim pesan itu.

Pesan: TH3o Imut
Aku tunggu di gerbang sekolah.

Tak perlu banyak waktu untuk Tania menemukan Theo karena memang waktu itu dia tengah menuju gerbang sekolah. Mereka langsung naik motor dan beranjak dari tempat itu menuju sebuah gereja. Ya gereja. Tempat mereka bertemu satu bulan yang lalu.
Tania turun dengan penuh tanda tanya dalam hatinya. Masih dengan perasaan heran dan penasaran, Theo menarik tangannya dan duduk di teras gereja itu. Tania mengikutinya tanpa banyak bicara.
“Di sini kita kenalan, kan?” tanya Theo memulai pembicaraan. Tania hanya mengangguk mengiyakan.
“Tan, aku sayang sama kamu. Kamu…….”, jari Tania menempel di bibir Theo. Membuatnya menghentikan kata-katanya.
“Aku juga sayang sama kamu, Kak. Makanya aku mau jadi adik kamu. Aku juga tau arah pembicaraan kamu kemana. Tapi aku mau kamu tau, persahabatan dan persaudaran kita sekarang ini lebih berharga buatku.”, jawab Tania. Dia berusaha menjawab sehalus mungkin, tak ingin mengecewakan hati kakak angkatnya itu.
“Aku tahu, Tan. Dan aku mengerti maksudmu.”, balas Theo.
Keheningan menyelimuti mereka beberapa saat sebelum akhirnya Theo mengantarkan Tania pulang ke rumahnya.
Hari demi hari telah berlalu. Namun pikiran Tania masih saja terus memutar kejadian saat Theo menyatakan perasaannya. Ditambah lagi, selama ini Theo semakin jarang menghubungi dan bertemu dengannya. Tania semakin merasa bersalah.

Pesan: TH3o Imut
Maaf, bukannya aku jauhin kamu
Aku Cuma lagi sibuk akhir2 ini
Lagi banyak tugas2 kampus yang harus
Aku cepet slesaikan.

Pesan balasan dari Theo itu semakin membuat resah hati Tania.dia semakin murung dan cemberut. Hari-hari dirasanya sepi tanpa SMS dan telepon dari Theo. Ketemuan pun belum tentu bisa satu bulan sekali. Padahal mereka tinggal di kota yang sama. Dalam jarak yang tidak terlalu jauh.
Tania mulai merasa kesepian tanpa kehadiran kakak angkatnya itu. Setiap SMS, telepon, e-mail yang dikirimnya jarang sekali dijawab oleh Theo. Tania mencoba, berusaha mengerti keadaan dan kesibukan kakak angkatnya itu. Namun benteng pertahanannya luruh. Kesepian, rasa kehilangan dan kerinduan semakin dalam menjangkit perasaannya. Hingga membuatnya nekat mendatangi Theo di kampusnya. Namun malang, dia tak dapat menemukan Theo.
Dengan langkah gontai dan perasaan putus asa, Tania melangkahkan kakinya menuju gereja tua tempat mereka bertemu dulu. Air mata meleleh di pipinya ketika dilihatnya Theo sedang duduk di teras dan memandang ke arahnya. Segera ia pun lari dan memeluk erat tubuh Theo seakan tak mau melepasnya.
“Aku yakin kamu akan datang”, ujar Theo sembari menyeka air mata di wajah Tania. Mereka pun duduk bersebelahan di teras gereja.
“Kenapa?”, sepotong tanya yang terucap dari bibir Tania. Namun agaknya sudah mampu mewakili seluruh pertanyaan yang ad dalam benaknya saat itu.
“Aku hanya ingin tahu perasaanmu yang sebenarnya. Karena aku yakin, kamu juga punya perasaan yang sama dengan yang aku rasakan. Akhirnya ku putuskan untuk tetap menunggu mu di sini. Menunggumu berubah pikiran”, jelas Theo.
“Kenapa nggak pernah menghubungi ku?”, tuntut Tania ketika tangisnya reda. Digantikan oleh rintik-rintik hujan yang mulai turun dan semakin deras.
“Karena aku mau tau bagaimana perasaanmu kepadaku. Bagaimana seandainya kamu tanpa aku”, jawab Theo.
“Aku sayang kamu, Kak. Aku nggak mau kehilangan kamu. Aku takut kamu tinggalin aku”, Tania mulai menangis lagi. Theo tersenyum dan meraih kepala Tania, disandarkannya pada bahunya.
“Aku nggak akan pernah ninggalin kamu seandainya……..”
“Seandainya aku jadi pacar kamu?”
“Bukan. Karena aku nggak mau kamu jadi pacar aku, Tan”, sahut Theo. Tania mengerutkan dahinya. Tak mengerti apa maksud perkataan Theo. ‘Bukankah itu yang diinginkannya selama ini? Menjalin hubungan lebih dekat lagi denganku?’ pikir Tania.
“Seandainya kamu mau menungguku kembali. Dan bersedia menjadi teman hidupku selamanya.”
“Besok, aku akan pergi ke Australia. Aku harus menyelesaikan studiku di sana selama dua tahun. Jadi……..”, lanjut Theo.
“Aku akan menunggumu”, jawab Tania tegas.
“Tapi jangan lupa untuk tetap menghubungiku”, tambahnya sambul menggandeng manja lengan Theo. Hujan telah lama reda. Theo dan Tania pulang dengan pelangi yang indah mewarnai hati mereka.
Akhirnya, Tania tetap dalam penantiannya. Namun kini dia sudah tahu untuk siapa dia menantikan cinta. Dan untuk siapa cintanya harus dijaga.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s