aku dan langit

langit sudah gelap. matahari tenggelam dalam samudra luas. sudah tak ada lagi stratus atau pun kumulus yang bisa kurangkai menjadi gambaran wajahnya. bintangpun belum nampak, membuatku menunggu sendiri dalam sepi.

hanya ini yang bisa kulakukan setiap hari. mereka-reka bayang wajahnya di muka langit. menggambar pada awan di siang hari. dan merangkai bintang yang bersinar.

tujuh  tahun dia telah pergi, merantau mengadu nasib. tak ada kabar, tak ada berita. namun aku selalu menunggunya. menantinya pulang kembali dan merayakan cinta bersama. akh…. sedang apa kiranya dia di sana??

bayang wajahnya perlahan mulai pudar. itulah sebabnya, mengapa aku selalu melukisnya di cakrawala. ya. agar aku tak lupa. agar langit memberitaahuku bilamana dia menemukannya. akh… rindu ini semakin sesak saja. bgaimana pula aku harus mengatakannya?? tak ada laggi kata yang bisa menggambarkan perasann ini.

nah…. itu dia. rupanya sang kejora terlambat datang malam ini. biasanya dia datang paling awal. tapi kali ini bulan sabit mengalahkannya. mereka bagai sedang bertengkar. berddiri berjauhan dan tak saling menyapa.

lalu aku memandangnya. sang kejora, sahabatku. dia mengerlipkan sinarnya. menyapaku dengan senyum di kejauhan. sinarnya paling terang. indah. aku selalu bercerita padanya. mencaritakan perasaan yang tertuju pada sang kekasih. mungkin, di tempat nun jauh di sana, kekasihku pun sama. bercerita pada sang kejora ini.

malam semakin menua. sudah tak ada lagi kata yang bisa ku ucap. ribuan bintang menyapaku dengan senyumnya. ramah dan bersahabat. sepanjang malam mereka menemaniku mengarungi sepi dan mengasuh rindu.

oh…. sang bulan membentangkan senyumnya. senyum yang sama dengan senyuman kekasihku.  mungkinkah dia mengirimkan senyum lewat sang rembulan? ku lihat, serentak gemintang berkedip padaku. kuanggap itu sebagai pembenaran atas tanyaku.

malam ini langit mengirimkan begitu banyak malaikat untuk menemani kesendirianku. menepiskan sepi dalam malamku. dan melipur rindu dalam hatiku. dia telah berhasil menghiburku malam ini.

dan malam benar-benar telah larut. dunia telah tenggelam dalam impian. jadilah aku pun tertidur pulass. bumi selalu setia manjadi alas tidurku. dan langit menerangiku dengan cahaya sang rembulan. angin malam lembut membelai rambutkku. menina-bobokan aku dalam selimut sang bintang. dalam pelukan malam.

dan bila esok tiba, sang surya menghangatkan tubuhku yang setengah beku. langit telah menyediakan kanvas yang terbaik. untuk kulukiskan kembali wajah kekasihku

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s