SUSUNAN ACARA REKOLEKSI ORANG TUA CALON PENERIMA KOMUNI PERTAMA

Nama Anggota Kelompok:

Angela Erma  Setia Pradani (10.2648\)

Antonia Bamban (10.2650)

Christina Heti Tw (10.2655)

Ignasius Damar  Putra (10.2668)

Matius Sugara (10.2686)

Maria Goreti Utami ( 10.2681)

Siking Purnama (10.2701)

Stefani Adelya (10.2702)

SUSUNAN ACARA REKOLEKSI

ORANG TUA CALON PENERIMA KOMUNI PERTAMA

 

09.00-09.30     check in dan ice breaking

09.30-11.00     session 1

11.00-12.00     makan siang

12.00-13.30     session 2

13.45               misa penutup

 

SESSION I.

KETERLIBATAN ORANG TUA DALAM MEMEPERSIAPKAN KOMUNI PERTAMA

Tempat            : Aula STKIP Widya Yuwana Madiun

Peserta             : Orang tua calon penerima komuni pertama

Metode            : SCP

Sarana             : Alat Tulis, Laptop, LCD Proyektor

Sumber Bahan: Katekismus, Kitab Suci

Waktu             : 19.00-20.30 WIB

I.         PEMIKIRAN DASAR :

Sebagaimana kita ketahui bersama, bahwa hak dan kewajiban pendidikan anak, termasuk pendidikan iman menjadi orang tua katolik sejati pertama-tama terletak ditangan orang tua.termasuk juga dalam hal ini, persiapan komuni pertama bagi anak-anak. Maka orang tua yang bertagung jawab atas tugasnya, niscaya tidak akan menunda-nunda atau mengabaikan kesempatan anak-anaknya menerima sakramen inisiasi. Sangat disayangkanbila orang tua tidak mau peduli kapan anaknya mesti komuni pertama. Kekurang seriusan orang tua dalam menghayati dalam iman Katolik, seperti seringnya absen dari kewajiban merayakan misa juga akan berdampak pada sikap masa bodo dalam pendidikan iman anak-anaknya. Orang tua harus menjadi teladan bagi anak-anak mereka. Kesediaan orang tua untuk mengantarkan anak-anak mempersiapakan diri menerima skaranmen kudus merupakan dukungan yang sangat bernilai.

Orang tua bekerja sma dengan Gereja kendati tanggungb jawab pendidikan orang tua terletak ditangan orang tua, lantaran oleh pelbagai keterbatasan dalam pelaksanaannya orang tua dibantu oleh Sekolah dan Gereja, yang bersifat melengkapi bukan menggantikan atau mengambil alih. Karena Gereja dalam hal ini saksi pendampingan iman anak dan para pembinanya serta membantu orang tua memepersiapkan putra-pitrinya menyambut komuni. Maka adanya kerja sama Gereja dan orang tua sangatlah diharapkan. Bagaimana secara konkrit kerjasama itu harus dapat diwujudkan dengan berbagai cara.

Oleh karena itu dalam katekese ini para orang tua calon penerima komuni pertama diajak untuk sadar serta mau terlibat dan ambil peran dalam mempersiapakn para putra-putrinya yang akan menerima sakramen inisiasi.

 

II.      TUJUAN :

·      Orang tua dapat mengetahui dasar-dasar pentingnya untuk terlibat dalam mempersiapkan komuni pertama

·      Orang tua dapat menghayati dasar-dasar pentingnya untuk terlibat dalam mempersiapkan komuni pertama

·      Orang tua dapat mengetahui bentuk-bentuk keterlibatannya dalam mepersiapakan komuni pertama

 

III.   LANKAH-LANGKAH:

1.         Sapaan salam dari fasilitator:

(fasilitator memberi salam kepada peserta katekese).

Selamat pagi bapak ibu yang terkasih dalam Kristus, senang sekali kita bisa bertemu di sini. Bagaimana kabarnya? Saya berharap semoga baik-baik saja, karena Allah selalu menyertai kita semua. Saya mengucapkan banyak terima kasih kepada bapak ibu yang sudah berkenan hadir dan bergabung bersama untuk mengikuti katekese yang bertema ”Keterlibatan orang tua dalam mempersiapak komuni pertama”. Bapak ibu yang dikasihi Kristus, sebelum memulai kegiatan katekese ini, marilah kita bersama-sama membuka hati, pikiran  kita agar siap menerima rahmat dari Allah.

2.         Lagu pembuka

“Betapa Baiknya Engkau Tuhan”

3.         Doa pembuka

(Doa pembukaan dipimpin oleh fasilitator dan mengajak peserta untuk berdoa bersama)

Ya Bapa, terimakasih atas bimbingan dan penyertaan-Mu kepada kami sehingga kami dapat berkumpul bersama di tempat ini dalam keadaan sehat dan tanpa kekurangan suatu apapun. Ya Bapa, kami mohon curahkanlah Roh Kudus-Mu kepada kami masing-masing supaya kami dapat mengikuti katekese ini dengan baik dan memahaminya. Semua ini kami serahkan kepada-Mu demi perantaraan Kristus Tuhan kami. Amin.

 

Ø  Langkah 0 : PEMUSATAN AKTIVITAS

(Pemandu menunjukkan gambar-gambar tentang penerimaan komuni pertama).

Pertanyaan penuntun:

1.    Apa yang menarik dari gambar-gambar tersebut?

(Kemudian peserta diajak dialog bersama untuk dihantar menuju ke langkah pertama).

 

Ø  Langkah I : PENGUNGKAPAN PRAKSIS FAKTUAL

(fasilitator mengajak para peserta untuk menggali pengalaman hidup yang dialami sehari-hari, mengenai harta pengalaman atau perasaan kerika menerima komuni).

1.      Dalam setiap mengikuti Perayaan Ekaristi bapak ibu selalu menerima hosti suci atau kimuni? Coba ceritakan perasaan dan pengalaman itu!

2.      Bagaimana perasaan anda jika melihat ada anak-anak yang sudah menerima komuni pertama?

 

 

Ø  Langkah II : REFLEKSI KRITIS PENGLAMAN FAKTUAL

Pengantar :

Bapak ibu, tadi telah mendengarkan sharing  tentang pengalaman mengenai pengelaman menerima komuni dalam perayaan ekaristi dan mengenai anak-anak yang sudah menerima komuni. Untuk itu kami mengajak bapak ibu untuk kembali mendalami pengalaman dengan beberapa pertanyaan.

(Fasilitator memberi pertanyaan panduan untuk mendalami pengalaman dengan tanya-jawab dan setelah itu juga memberikan peneguhan).

Pertanyaan:

1.    Apa menurut bapak ibu penting ketika mengikuti perayaan ekaristi menerima komuni?

2.    Apakah menurut anda anak-anak yang sudah pantas menerima komuni juga baik jika segera menerima sakramen pertama?

3.    Apakah bapak ibu perlu terlibat dalam mempersiapakan penerimaan komuni pertama bagi anak-anak anda?

Peneguhan: (Peneguhan disesuaikan dengan hasil sharing)

Dari pengalaman-pengalaman bapak ibu tadi, ternyata setiap orang memiliki jawaban-jawaban yang berbeda mengenai peran orang tua dalam mempersiapkan penerimaan komuni pertama.

Langkah III : MENGUSAHAKAN SUPAYA TRADISI DAN VISI KRISTIANI LEBIH TERJANGKAU

 

Bapak ibu yang terkasih, setelah kita ber-refleksi kritis terhadap pengalaman yang faktual, kita selanjutnya akan mendalami Tradisi dan Visi Kristiani agar lebih terjangkau dengan pengalaman hidup kita.

Pandangan Gereja atau Kitab Suci:

Dasar-dasar Keterlibatan Orang Tua dalam Mempersiapkan Komuni Pertama

Dasar-dasarnya adalah sakramen inisiasi yang sudah diterima oleh orangtua yaitu sakramen Baptis, Krisma dan Ekaristi. Dengan sakramen baptis maka seseorang telah dipersatukan dengan Kristus dan memiliki tugas untuk terlibat dalam tri tugas Kristus yaitu untuk menjadi imam, raja dan nabi. Dengan memberikan ajran Kristiani dan mempersiapakan anak dalam mempersiapkan diri dalam menerima sakramen-sakramen inisiasi berarti orang tua sudah melakukan tanggung jawabnya dalam tri tugas Kristus.

Mengapa anak perlu dipersiapkan dalam menyambut komuni pertama?

 Anak-anak yang dilahirkan di dalam keluarga Katolik, pada umumnya dibaptis ketika masih bayi. Ini adalah tanggung jawab setiap Ayah-Ibu Katolik. Selanjutnya anak tidak hanya dibiarkan begitu saja, tetapi iman anak perlu dibina lebih lanjut. Dengan demikian diharapkan menjadi anak Katolik  yang semakin bertanggung jawab terhadap kehidupan imannya. Sudah banyak terlihat anak-anak diajak pergi ke gereja oleh Ayah-Ibunya pada hari minggu, untuk bersama-sama mengalami dan merasakan serta melaksanakan puji-pujian terhadap Tuhan. Namun tugas Ayah-Ibu tidak sampai di sini saja. Mereka harus mendampingi anaknya terus untuk mempersiapkan lebih matang penghayatan iman dari segi-segi yang lain. Seperti Komuni Pertama. Hidup bersama sebagai orang beriman terwujud dalam perayaan ekaristi. Perayaan ekaristi sebagai perayaan cinta kasih yang dianugrahkan Kristus kepada umat beriman

Keterlibatan para orang tua dalam pendidikan rohani anak-anak mereka

Setiap saat anak-anak kita menerima Ekaristi (Komuni Kudus), mereka sebenarnya secara pribadi berpartisipasi dalam peristiwa paling penting yang pernah ada/terjadi dalam sejarah. Perspektif ini harus meyakinkan kita tentang tanggung-jawab kita sebagai orang tua dalam menyiapkan anak-anak kita untuk menerima Komuni Pertama dan dalam pembinaan selanjutnya sampai saatnya mereka memasuki usia dewasa. Sebagai orangtua, kita begitu banyak memakai waktu, pikiran dan tenaga dalam mempersiapkan anak-anak kita untuk hidup mereka sebagai anggota masyarakat. Misalnya, kita menggunakan banyak sekali waktu untuk melatih anak-anak kita membaca, menulis, memecahkan soal-soal matematika karena tanpa keterampilan dalam kegiatan membaca-menulis dan hitung-menghitung, anak-anak kita tidak akan sangat berhasil dalam kehidupannya sebagai seorang pribadi manusia di tengah masyarakat.

Bagaimana halnya dengan pendidikan anak-anak oleh para orang tua mereka dalam bidang “kehidupan rohani”? Pada umumnya terasa kurang, apabila dibandingkan dengan usaha yang pertama disebutkan tadi! Mengapa? Karena kita-manusia menghayati kehidupan sekular dalam sebuah dunia yang adalah sekular pula, hampir tidak menyadari bahwa Yesus Kristus telah membuat dunia ini menjadi sebuah dunia yang sakramental: “Lihatlah, Aku menjadikan segala sesuatu baru” (Why 21:5) – sebuah dunia di mana setiap kegiatan dan setiap peristiwa dapat menjadi sarana rahmat ilahi yang membawa manusia kepada keselamatan (Anthony M. Buono, “Active Participation at Mass – What It Is and How to Attain It”, New York: Alba House, 1994, hal.1).

Sebenarnya sebagai orang tua, kita harus menyediakan waktu, pikiran dan tenaga dalam hal pembinaan anak-anak kita di bidang rohani ini karena hidup Kristiani membutuhkan iman, penyembahan, kasih dan banyak realitas lain yang tidak dapat dipelajari oleh anak-anak kita tanpa bantuan kita sebagai orangtua. Dalam hal ini, kita dapat melihat contoh sikap yang diberikan oleh Samuel ketika berbicara kepada bangsa Israel; “Aku akan mengajarkan kepadamu jalan baik dan lurus” (1Sam 12:23). Peran para orang tua Yahudi dalam mendidik anak-anak mereka sehubungan dengan praktek keagamaan sangatlah ditekankan dan dituntut dalam Perjanjian Lama (=Perjanjian Pertama), misalnya tentang “Kasih kepada Allah sebagai perintah yang utama”: “… haruslah engkau perhatikan, haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun” (lihat Ul 6:7). Ekaristi adalah puncak hidup iman kita sebagai umat Kristiani. Dengan demikian, tugas kitalah sebagai orang tua untuk melibatkan diri mendidik anak-anak kita tentang pengetahuan dan pengalaman kita pribadi berkaitan dengan Ekaristi tersebut, karena pendidikan formal baik di sekolah maupun di paroki tidak akan mencukupi. Aliran, mazhab, tarekat, komunitas, spiritualitas atau apa pun namanya yang ada dalam Gereja, tidak akan bertahan lama, apabila tidak bertumpu pada pilar yang bernama EKARISTI ini!

Pada tahun 1981, Paus Yohanes Paulus menulis sebuah Anjuran Apostolik dengan judul FAMILIARIS CONSORTIO tentang “Peranan Keluarga Kristiani dalam Dunia Modern” (22 November 1981). Butir 26 dalam Anjuran Apostolik itu berjudul “Hak-Hak Anak-Anak”, di mana a.l. tercatat: “Sikap menerima, cintakasih, penghargaan, kepedulian terhahap anak yang lahir di dunia ini, perhatian dengan pelbagai seginya yang semuanya terpadu: di bidang jasmani, emosional, pendidikan dan rohani, semuanya itu selalu harus menjadi ciri khas yang pokok bagi semua orang Kristiani, khususnya bagi keluarga Kristiani. Begitulah anak-anak akan mampu bertambah ‘hikmat-Nya dan besar-Nya, dan makin dikasihi oleh Allah dan manusia’ [Luk 2:52]” (Familiaris Consortio, 26). Petikan ini hanya ingin menggaris-bawahi pentingnya keterlibatan kita dalam pendidikan rohani anak-anak kita.

Penanggungjawab Pertama  dan Utama

  • Yang dilimpahi tugas dan tanggungjawab atas anak-anak adalah pertama-tama ayah dan ibu, lalu para guru, pimpinan komunitas dan pimpinan rumah-rumah penampungan anak-anak, semua yang memiliki fungsi dan tanggungjawab perwalian, para imam non parokial maupun imam paroki.
  • Orang tua atau wali (anak yatim piatu atau anak asuhan) adalah penanggungjawab pertama dan utama. Mereka mengamati, membimbing dan menilai anak-anak setiap hari. Merekalah yang memastikan bahwa anak sudah dapat menerima sakramen pengampunan dosa dan komuni pertama lalu meminta guru dan imam untuk memenuhi kebutuhan anak.
  • Orang tua dan guru-guru serta petugas pastoral lainnya bertanggungjawab membimbing anak-anak yang sudah menerima sakramen pengampunan dosa dan komuni pertama agar selanjutnya dengan setia dan teratur merayakan sakramen-sakramen itu.
  • Adalah tugas para guru dan para imam penanggungjawab untuk membimbing orangtua sedemikian rupa agar menyadari dan melaksanakan tugas mereka sebagai penanggungjawab utama dan pertama dalam hal ini.
  • Bila orang tua melalaikan tugas dan tanggungjawabnya sehubungan dengan komuni pertama anak-anaknya, maka imam bersangkutan dapat mengambil alih tugas orang tua dan walinya.
  • Bila imam menentang atau tidak setuju untuk menerima anak-anak yang dinilai orang tuanya sudah mampu menggunakan akal budinya, maka mereka dapat mengajukan anak yang besangkutan kepada imam lainnya, karena setiap imam mempunyai hak untuk menerima seorang anak untuk komuni pertama secara pribadi atau privat.

(Fasilitator mengajak para peserta untuk mendalami bacaan diatas)

1.      Apa yang dapat kita pelajari dari bacaan diatas?

Setelah kita membaca bacaan mengenai pandangan Gereja dan ajaran Kristiani mengenai keterlibatan orang tua dalam persiapan komuni pertama, kiranya hidup kita pun semakin dapat melaksanakan tugas sebagai orang tua yang bertagungjawab dalam pelaksanaan tri tugas Kristus.

 

Ø  Langkah IV : INTERPRETASI DIALEKTIS ANTARA PRAKSIS DAN VISI PESERTA DENGAN TRADISI DAN VISI KRISTIANI

Bapak ibu terkasih, setelah kita melihat pandangan ajaran Gereja dan telah mengupayakan supaya ajaran-ajaran Tradisi atau Visi Kristiani lebih terjangkau. Sekarang kita akan mencoba supaya dialog antara praksis dan visi peserta dapat sesuai dengan Tradisi dan Visi Kristiani.

(Fasilitator menanyakan hal apa yang diperoleh setelah mendapatkan peneguhan menurut pandangan Gereja).

Pemahaman baru apa yang bapak ibu dapatkan setelah mendegarkan visi misi ajaran Gereja atau Kristiani tadi?

Apakah bapak ibu sudah menyadari pentingnya dalam mendampingi anak-anak dalam menerima komuni pertama?

    

Ø  Langkah V : KETERLIBATAN BARU DEMI MAKIN TERWUJUDNYA KERAJAAN ALLAH DI DUNIA

(Fasilitator memberikan pertanyaan untuk mengarahkan peserta agar dapat membuat niat-niat secara kongkrit)

Bapak ibu setelah kita mendalami pribadi lebih dalam, sekarang marilah kita bangun niat-niat baru sebagai keterlibatan kita demi semakin terwujudnya Kerajaan Allah di dalam kehidupan kita di dunia ini.

Pertanyaan:

Sikap yang bagaimana yang seharusnya kita miliki sebagai orang tua dalam mempersiapkan anak-anak dalam menerima komuni pertama?

Membangun niat-niat:

Misal: memberikan dukungan dan arahan untuk anak-anak agar mau menrima komuni pertama. Member teladan dalam hidup ketika sudah menerima komuni pertama terutama dlaam sikap-sikap hidup.

 

 

SESSION II

BENTUK-BENTUK KETERLIBATAN ORANG TUA DALAM MEMPERSIAPKAN ANAK MENYAMBUT KOMUNI PERTAMA

1.    Sapaan salam dari fasilitator.

2.      Lagu ice breaking “Yesus Kekasih Jiwaku”

 

ØLangkah I : PENGUNGKAPAN PRAKSIS FAKTUAL

(fasilitator mengajak para peserta untuk menggali pengalaman hidup yang dialami sehari-hari, mengenai dalam membina iman anak).

1.    Apa yang sudah bapak/ibu dapatkan dari sesi yang pertama?

2.    Tindakan apa yang sudah bapak/ibu lakukan dalam membina iman anak?

3.    Coba ceritakan pengalaman anda!

 

ØLangkah II : REFLEKSI KRITIS PENGLAMAN FAKTUAL

(Fasilitator memberi pertanyaan panduan untuk mendalami pengalaman dengan tanya-jawab dan setelah itu juga memberikan peneguhan).

Pertanyaan:

1.    Bagaimana perasaan bapak/ibu jika anak-anak menolak untuk melakukan hal-hal tersebut?

2.    Bagaimana cara bapak/ibu menyikapi penolakan itu?

Peneguhan: (Peneguhan disesuaikan dengan hasil sharing)

 

ØLangkah III : MENGUSAHAKAN SUPAYA TRADISI DAN VISI KRISTIANI LEBIH TERJANGKAU

Bapak ibu yang terkasih dalam Kristus, setelah kita mengali pengalaman melalui sharing, selanjutnya marilah kita coba melihat Gereja berbicara apa tentang komunikasi dalam keluarga, agar kita semakin mendapatkan pengetahuan yang luas mengenai komunikasi dalam keluarga itu sendiri.

Pandangan Konsili Vatikan II:

“Keluarga katolik harus menampakkan hidup dan kehadiran Kristus penebus serta wajah Gereja yang sebenarnya. Dengan kata lain, setiap keluarga harus merupakan gereja kecil. Keluarga adalah wadah persekutuan iman, tempat subur bagi pertumbuhan iman anak. Bila di sana ada cinta kasih, kesatuan, dan keharmonisan(liturgia), bila keluarga itu merayakan iman dengan doa baik pribadi maupun bersama, bila keluarga itu mewujudkan pelayanan dengan penuh perhatian (diakonia), bila keluarga itu berani memberikan kesaksian tentang imannya (martyria) dan bila peduli pada pengetahuan agama anaknya dengan mengisahkan Yesus kepada mereka (kerigma).”

Maka dalam gereja kecil itu orangtua selaku wakil Kristus menjadi pemimpin dan pendamping anak-anak yang menjadi anggotanya. Oleh karena itu para orang tua selalu bercermin pada Kristus sendiri bagaimana Ia mencintai GerejaNya, membimbing dan mendidik murid-muridNya; para bapak dan ibu pun tahu bagaimana harus mencintai keluarga, membimbing dan mendidik anak-anak dan bersama-sama mewujudkan Gereja kecil itu di tengah keluarga mereka.

Bapak Ibu selaku orang tua, telah lebih dahulu menerima sakramen-sakramen inisiasi dalam Gereja katolik. Dengan menerima sakramen-sakramen tersebut, Bapak dan Ibu telah diurapi dengan Roh Kudus dan menerima tri tugas Kristus. Yakni sebagai imam, nabi, dan raja. Sehingga orang tua hendaknya mampu mengarahkan anak-anak kepada terang kasih Kristus. Dalam hal ini, orang tua hendaknya mendukung setiap gerakan Gereja dalam rangka membawa anak-anak kepada Kristus, untuk bersatu dengan Sang Pokok Anggur. Sehingga anak-anak turut ambil bagian dalam tugas Kristus dan keselamatan yang datang dari pada-Nya.

Keteladanan orang tua

Para katekis yang terlibat dalam bina-iman anak-anak yang akan menyambut Komuni Pertama memang banyak berjasa, namun demikian mereka tidak melakukan semuanya yang diperlukan bagi anak-anak itu. Mengapa? Karena diperlukan bina-lanjut bagi anak-anak itu yang hanya dapat diberikan oleh orangtua mereka masing-masing. Kita harus menyadari bahwa banyak faktor eksternal yang mengancam anak-anak kita dalam pertumbuhan mereka sebelum memasuki usia dewasa, a.l. dari berbagai macam media. Para orangtua tetap merupakan pengaruh utama dalam kehidupan anak-anak itu. Keteladanan Kristiani para orang tua merupakan faktor utama yang membentuk iman-Katolik anak-anak kita, lebih dari faktor-faktor lainnya. Tanpa keteladanan orangtua, anak-anak kita kiranya tidak akan menerapkan apa yang mereka pelajari dari pendidik agama yang formal, baik dari sekolah (Katolik) maupun dari paroki.

Sejak masih kecil sekali dan sebelum menerima Komuni Pertama, anak-anak kita mempunyai pengalaman sedikit demi sedikit berkaitan dengan pendekatan kita sendiri – para orang tua – terhadap sakramen; dan pengalaman itu pun semakin menumpuk. Kesiapan anak-anak kita untuk menerima Komuni pertama sebenarnya lebih banyak dipengaruhi oleh hal ini daripada pendidikan oleh para katekis khusus untuk komuni pertama. Apabila kita sebagai para orangtua “santai-santai saja” atau “tanpa komitmen” dalam hal Ekaristi, atau bilamana kita mempunyai ide yang keliru atau tidak matang tentang Ekaristi itu, maka kita pun dapat melihat bahwa anak-anak kita sharing sikap dan kesalahpahaman yang sama. Misalnya, apabila kita memandang Misa Kudus sebagai sekadar tugas-kewajiban kita pada hari Minggu, maka susahlah bagi kita untuk mengharapkan anak-anak kita mempunyai suatu pengalaman yang sangat kaya berkaitan dengan Ekaristi ini. Sebaliknya apabila kita memiliki penghargaan yang matang terhadap Ekaristi dan membangun kehidupan pribadi dan keluarga kita di sekitar kehadiran Tuhan, maka anak-anak kita pun akan cenderung untuk melakukan hal yang sama.

 

 (Fasilitator mengajak para peserta untuk mendalami bacaan diatas)

1.    Seturut oleh ajaran Gereja, apa yang bapak/ibu pahami untuk tugas kita sebagai orang tua?

 

ØLangkah IV : INTERPRETASI DIALEKTIS ANTARA PRAKSIS DAN VISI PESERTA DENGAN TRADISI DAN VISI KRISTIANI

Bapak ibu terkasih, setelah kita melihat pandangan ajaran Gereja dan telah mengupayakan supaya ajaran-ajaran Tradisi atau Visi Kristiani lebih terjangkau. Sekarang kita akan mencoba supaya dialog antara praksis dan visi peserta dapat sesuai dengan Tradisi dan Visi Kristiani.

(Fasilitator menanyakan hal apa yang diperoleh setelah mendapatkan peneguhan menurut pandangan Gereja).

1.    Setelah mendengarkan ajaran Gereja bagaimana seharusnya sikap kita sebagai orang tua dalam mempersiapkan anak-anak kita untuk menerima komuni pertama?

 

ØLangkah V : KETERLIBATAN BARU DEMI MAKIN TERWUJUDNYA KERAJAAN ALLAH DI DUNIA

(Fasilitator memberikan pertanyaan untuk mengarahkan peserta agar dapat membuat niat-niat secara kongkrit)

Bapak ibu setelah kita mendalami pribadi lebih dalam, sekarang marilah kita bangun niat-niat baru sebagai keterlibatan kita demi semakin terwujudnya pengampunan dari Allah, serta kehidupan yang damai dan tentram di dunia ini.

Pertanyaan:

Niat atau usaha apa yang dapat anda lakukan sebagai orang tua untuk mengantarkan anak-anak menyambut komuni pertama mereka?

Membangun niat-niat:

Misal: Berdoa bersama dalam keluarga,lebih bertanggung jawab terhadap perkembangan jasmani dan rohani anak, menjadi teladan bagi anak-anaknya, mengajarkan anak-anak untuk mau berbagi dengan orang lain, mendukung dan mengantarkan anak-anak untuk ambil bagian dalam kegiatan Gereja.

 

 

IV.   PENUTUP

(Sebelum menutup proses katekese ini, fasilitator memberikan penegasan kembali agar apa yang sudah didapat selama proses katekese dapat diingat kembali dan mengucapkan terimakasih atas partisipasi peserta dalam proses katekese kemudian dilanjutkan dengan doa penutup)

Bapak ibu yang terkasih, setelah kita mengikuti katekese ini, kita bisa belajar dan mewujudkan niat-niat kita untuk menjadi orang tua yang baik dewasa penuh tanggung jawab dalam mendampingi dan mempersiapkan anak-anak menrima komuni pertama.

Doa penutup:

Allah Bapa yang Bertahta di dalam surga, terima kasih atas bimbingan dan tuntunan hari ini. Kami juga mengucap syukur atas rahmat-Mu yang telah Kau berikan dan Kau limpahkan kepada kami. Ya Bapa, semoga dengan mendengarkan dan menghayati akan tema yang telah kami bahas serta Sabda-Mu, kami semakin Kau kuatkan dalam menyadari bahwa dalam hidup sebagai orang tua yang ambil bagian dalam tri tugas Kristus memiliki tugas untuk terlibat dalam memperispkan penerimaan komuni pertama. Ya Bapa, doa ini kami serahkan kepada-Mu dalam perantaraan Kristus Tuhan kami. Amin.

 

Lagu penutup

“Seperti Yang Kau Ingini”

 

·      Ditutup dengan Perayaan Ekaristi

 

 

Batasan-batasan keterlibatan

Evaluasi

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

FAMILIARIS CONSORTIO

Lembaga Biblika Indonsia (Terjemahan diterima dan diakui oleh konfrensi Wali Gereja Indonesia).1997. Kitab suci Deuterokanonika. Jakarta: Lembaga Alkitab Indonesia.

Katekismus

KWI. 1996. Iman Katolik Buku Informasi dan Referensi: Yogyakarta Kanisius & Obor: Jakarta.

Susanto, AL. Amin. 1984. Persiapan Komuni Pertama. Yogyakarta: KWI.

 

 

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s